Seorang pria berpakaian buruh tiba di gerbang vila tetapi dihentikan oleh petugas keamanan. Tiga puluh menit kemudian, semua orang di dalam terkejut mengetahui kebenaran tentang dirinya.
Saat itu pagi musim panas yang terik, matahari bersinar menyengat. Di depan gerbang besi tinggi sebuah vila yang terletak di lingkungan terkaya di ibu kota Indonesia, seorang pria paruh baya dengan pakaian buruh konstruksi yang bernoda semen, membawa tas kanvas usang di punggungnya dan memegang helm keselamatan yang pudar, berdiri diam menunggu.

Saat ia mendekat, dua petugas keamanan berjas hitam segera menghentikannya.

“Hei! Keluar dari sini! Ini bukan tempat bagi pekerja bergaji rendah untuk datang dan meminta pekerjaan!”

Pria itu tidak membantah. Ia perlahan mengambil selembar kertas kusut dari sakunya dan menyerahkannya kepada mereka. Salah satu petugas keamanan merebutnya, meliriknya sekilas, lalu tertawa sinis, meremasnya, dan melemparkannya ke tanah.

“Kau pikir kau bisa bertemu bos Grup Santoso dengan ini? Pergi sana!”

Pria itu tetap tak bergerak, pandangannya tertuju pada gerbang vila di belakangnya, seolah menunggu sesuatu yang tidak dipahami orang lain. Didorong paksa ke pinggir jalan, ia hanya mengangguk sedikit, suaranya rendah namun tegas:

– “Saya akan kembali. Dalam 30 menit.”

Setengah jam kemudian, di dalam vila, perayaan ulang tahun ke-70 Surya Santoso – Ketua Grup Santoso, kerajaan real estat terkemuka di Indonesia – sedang berlangsung. Seluruh keluarga berkumpul: anak-anak, cucu, mertua, mitra bisnis, media, dan lampu sorot kamera.

Surya sedang berpidato ketika kepala pelayan yang sudah tua bergegas masuk, membisikkan beberapa kata di telinganya.

Dalam hitungan detik, wajah Surya pucat pasi. Ia membeku, tangannya gemetar, suaranya terbata-bata: – “Di mana…dia?”

Seluruh ruangan menjadi hening. Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja terjadi. Surya mendorong semua orang ke samping dan bergegas keluar, di bawah tatapan bingung anak-anak, cucu, dan tamunya.

Saat ia sampai di gerbang, pria berpakaian pekerja konstruksi itu masih berdiri di sana.

Mata mereka bertemu.

Pada saat itu, semuanya tampak berhenti.

Pria itu adalah adik laki-laki Surya, yang hilang selama lebih dari 40 tahun.

Tidak seorang pun di keluarga Santoso yang tahu bahwa, di masa muda mereka yang miskin, Surya dan Rahman pernah bekerja bersama di lokasi konstruksi di Surabaya. Kemudian terjadi kecelakaan mengerikan: runtuhnya tambang, dan Rahman terkubur dan menghilang. Semua orang percaya dia telah meninggal.

Hanya Surya yang cukup beruntung untuk selamat.

Sejak hari itu, ia berjuang seorang diri, mendaki dari lapisan bawah masyarakat untuk menjadi seorang taipan real estat. Setelah mencapai puncak ketenaran, ia mengubur kenangan menyakitkan itu dalam-dalam, tidak pernah lagi menyebutkan adik laki-lakinya yang telah meninggal.

Namun kini, di hadapannya, di mata yang cekung dan wajah yang tampak lelah itu, ciri-ciri masa lalu yang familiar terlihat jelas. Bekas luka lama—jejak dari masa kerjanya di lokasi konstruksi—sangat jelas terlihat.

Pria berpakaian pekerja konstruksi itu berbicara dengan suara serak dan gemetar:

– “Saudaraku… sudah lama sekali.”

Suasana di luar vila membeku.

Keluarga Santoso terkejut. Tak seorang pun percaya bahwa “seorang pekerja konstruksi yang rajin” adalah kerabat kandung Ketua perusahaan. Para wartawan terdiam, kamera mereka terus berkedip.

Tuan Surya berlutut, menggenggam tangan saudaranya yang kapalan dan pecah-pecah, terisak seperti anak kecil:

– “Saudaraku… kukira kau sudah tiada…”

Seluruh keluarga terdiam.

Kekayaan, kekuasaan, ketenaran, dan pesta mewah semuanya menjadi tidak berarti dalam sekejap.

Yang tersisa hanyalah pukulan yang mengejutkan:
adik laki-laki yang telah lama hilang itu kembali, tepat pada ulang tahun ke-70 “taipan properti Indonesia.”