Miliarder itu, yang percaya istrinya mandul, meninggalkannya tanpa pikir panjang demi kekasih yang lebih muda. Lima belas tahun kemudian, ia bertemu istrinya lagi… terkejut melihat dua anak dari istrinya. Kebenaran yang terungkap kemudian membuatnya gemetar dan menderita kesakitan seumur hidupnya…
Di bawah lampu kristal sebuah pesta bisnis di hotel Mulia Jakarta, Rizki Hartono berdiri sendirian, memegang segelas anggur, matanya kosong saat ia memperhatikan keramaian. Di usia 45 tahun, Hartono memiliki segalanya: kekayaan senilai triliunan rupiah, sebuah vila di Menteng, mobil-mobil mewah. Namun ironisnya, yang paling ia butuhkan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: sebuah keluarga.
Lima belas tahun yang lalu, Hartono adalah pria yang kejam. Kariernya sedang berkembang pesat, dan ia mendambakan seorang ahli waris. Tetapi Sari – istrinya yang setia yang telah berjualan sate bersamanya sejak masa kuliah mereka – tetap tidak memiliki anak. Tekanan keluarga dan keegoisan menyebabkan Hartono berubah pikiran.
Ia memulai perselingkuhan dengan Maya, seorang model muda. Maya membisikkan kata-kata manis tentang masa depan dengan banyak anak dan cucu. Kemudian, suatu sore yang hujan di Jakarta, Hartono melemparkan surat cerai ke wajah Sari, dengan dingin menyatakan, “Jika kau tidak bisa melahirkan anak, aku akan mencari orang lain. Aku tidak bisa membiarkan garis keturunan keluarga Hartono punah.” Dia mengusirnya dari rumah tanpa apa pun.
Tak disangka, karma segera datang. Maya, selingkuhannya yang cantik, tidak hanya gagal melahirkan anak baginya tetapi juga menjadi “mesin pemboros uang.” Dia menghamburkan uang Hartono untuk pesta semalaman, perjalanan mewah, dan kemudian berselingkuh dengannya dengan pria yang lebih muda. Pada saat Hartono menyadari bahwa dia telah ditipu secara emosional dan finansial, sudah terlambat. Dia kembali ke kehidupan yang kaya dan kesepian.
— “Silakan sambut Pengusaha Wanita Berprestasi Tahun Ini, Ibu Sari Hartono, CEO Sari Group, ke panggung untuk pidatonya.”
Suara MC membawa Hartono kembali ke kenyataan. Nama “Sari Hartono” membuat jantungnya berdebar kencang. Di atas panggung, seorang wanita muncul, anggun dan berkelas dalam balutan sarung emas. Wajahnya, meskipun menunjukkan beberapa tanda penuaan, masih memancarkan kecantikan yang matang dan tajam. Itu adalah Sari – istri yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun lalu.
Hartono terdiam. Ia bukan lagi penjual sate yang pekerja keras dan tabah seperti dulu. Ia berseri-seri, seperti burung phoenix yang terlahir kembali.
Namun yang lebih mengejutkan Hartono bukanlah kesuksesan mantan istrinya.
Dari belakang panggung, dua remaja, sekitar 14 atau 15 tahun, mengenakan baju batik yang elegan, muncul sambil membawa bunga untuk ibu mereka. Saat kedua anak itu menoleh ke arah penonton, tersenyum cerah, gelas anggur di tangan Hartono jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Kedua anak itu… identik dengan Hartono. Dari mata mereka yang dalam dan hidung mereka yang lurus dan mancung hingga cara mereka menyeringai dengan angkuh. Tidak perlu tes DNA; siapa pun bisa tahu bahwa mereka adalah anak-anaknya.
Hartono bergegas menuju panggung seperti orang gila, mengabaikan semua tatapan tidak setuju. Ketika upacara berakhir, ia menghentikan Sari di ruang tunggu.
“Sari!” Suara Hartono bergetar.
Sari berbalik, tatapannya tenang hingga terasa dingin. Ia memandang Hartono seolah-olah ia orang asing. Kedua anak laki-laki kembar itu berdiri di depan ibu mereka, memandang Hartono dengan waspada.
“Siapa kau?” tanya salah satu anak. Suaranya sedalam dan sehangat suara Hartono dulu.
— “Adi, Budi, kalian berdua tunggu di mobil. Aku perlu bicara dengan orang ini sebentar,” kata Sari lembut kepada anak-anaknya.
Ketika kedua anak itu sudah tidak terlihat, Hartono tak tahan lagi dan bergegas meraih tangan mantan istrinya:
“Sari… kedua anak itu… apakah mereka anakku? Mereka persis sepertiku. Kau menyembunyikan ini dariku selama 15 tahun?”
Sari menepis tangan Hartono, dengan ringan mengusap noda di rompinya tempat Hartono menyentuhnya seolah membersihkan kotoran:
“Menyembunyikan? Apa kau pikir kau pantas aku menyembunyikan sesuatu darimu, Rizki Hartono?”
“Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahuku?” teriak Hartono, air mata menggenang di matanya. – “Dulu… kupikir kau mandul…”
Sari tersenyum pahit, senyum yang penuh dengan penghinaan:
— “Mandul? Pada hari kau melemparkan surat cerai dan mengusirku dari rumah di tengah hujan deras, aku sedang hamil delapan minggu. Kembar. Aku bermaksud memberitahumu, aku berlutut di kakimu memohon agar kau tidak meninggalkanku dan anak-anak kita. Tapi… apakah kau mendengarkan? Kau menyebutku parasit, wanita yang tidak mampu melahirkan anak.”
Setiap kata Sari seperti pisau yang menusuk jantung Hartono. Dia mengingat sore yang hujan itu. Memang benar dia telah menangis dan memohon, dia bermaksud mengatakan sesuatu, tetapi pria itu mengabaikannya, dengan dingin membanting pintu hingga tertutup.
Ternyata dia sendiri telah meninggalkan darah dagingnya. Dia telah mengusir istri dan anak-anaknya ke jalanan untuk menghidupi seorang wanita yang hanya mengincar harta.
— “Aku salah… Aku benar-benar salah, Sari…” – Hartono berlutut di tengah lobi hotel mewah. Miliarder yang dulunya arogan itu kini hanyalah seorang pria yang menyedihkan. – “Aku mohon. Tolong izinkan aku mengambil kembali anak-anakku. Aku punya uang, banyak uang. Aku akan menebusnya untukmu dan anak-anak. Aku akan menyekolahkan mereka di sekolah internasional terbaik, dan mereka akan mewarisi seluruh kekayaan…”
Sari menatap pria yang berlutut di kakinya. Tidak lagi dipenuhi kebencian, hanya rasa iba yang tersisa di matanya.
— “Bangun. Jangan mengotori lobi hotel.”
Dia menyesuaikan kacamata hitam desainernya dan melanjutkan dengan dingin:
— “Apakah menurutmu uangmu begitu banyak? Kedua anakku bersekolah di sekolah internasional sejak kecil, tinggal di vila, dan menerima pendidikan yang baik dengan uang yang kuperoleh. Mereka berperilaku baik, cerdas, dan berbakti. Mereka tidak pernah kekurangan apa pun, bahkan kasih sayang, karena aku telah memberi mereka dua kali lipat dari yang akan diberikan seorang ayah.”
— “Tapi darah… kau adalah ayah biologis mereka…” – Hartono tergagap, mencoba berpegang pada secercah harapan terakhir.
Sari membalikkan badan dan pergi, meninggalkan ucapan tajam yang mengakhiri semua ilusi:
— “Jangan bermimpi lagi. Baik dalam akta kelahiran maupun pikiran kedua anak itu, ayah mereka telah meninggal 15 tahun yang lalu. Orang yang berdiri di sini hanyalah orang asing yang lewat saja.”
Sari berjalan langsung ke Rolls-Royce yang menunggu. Kedua anak laki-laki itu melambaikan tangan dan memanggil, “Ibu!”, senyum mereka berseri-seri. Mobil itu melaju pergi, meninggalkan Hartono berdiri membeku di lobi, dikelilingi oleh lampu-lampu yang menyilaukan namun dingin.
Hartono menatap bayangannya di cermin: tua, kesepian. Ia memiliki triliunan di tangannya, tetapi selama sisa hidupnya, ia harus hidup sebagai seseorang yang telah menghancurkan hidupnya sendiri dengan tangannya sendiri. Penyesalan yang terlambat…
News
Dalawampung taon na akong nagtitinda ng karne sa palengke.
Araw-araw, may isang batang babae, mga walong taong gulang, ang dumadaan tuwing pauwi galing paaralan. Sa tuwing hindi ako nakatingin, palihim siyang kumukuha ng isang maliit na hiwa ng taba ng baboy na natitira sa aking puwesto. Nakikita ko ang…
Isang linggo bago ang kasal, sinabi sa akin ni Cody na ipahiram ko ang aking wedding gown sa kanyang “Great Love” o First Love.
Isang linggo bago ang kasal, sinabi sa akin ni Cody na ipahiram ko ang aking wedding gown sa kanyang “Great Love” o First Love. “Unang beses na lalakad si Lianne sa red carpet pagkauwi niya ng Pilipinas, kailangang maging napakaganda niya. Pagkatapos ng event, ibabalik…
BIGLA AKONG S!NAMP4L NG GF KO NANG MAGISING SIYA ISANG UMAGA HABANG MAGKATABI KAMI SA KAMA. SABI NIYA MAY BABAE DAW AKO SA PANAGINIP NIYA. AT ANG MGA PANAGINIP DAW MGA SIGNS DAW YUN AT IBIG SABIHIN DAW AY TOTOO YUN, KAYA IYAK NA SIYA NG IYAK DAHIL MERON DAW AKONG BABAE KAHIT SABI KO WALA
BIGLA AKONG S!NAMP4L NG GF KO NANG MAGISING SIYA ISANG UMAGA HABANG MAGKATABI KAMI SA KAMA. SABI NIYA MAY BABAE DAW AKO SA PANAGINIP NIYA. AT ANG MGA PANAGINIP DAW MGA SIGNS DAW YUN AT IBIG SABIHIN DAW AY TOTOO…
INIWAN KO SILA SA HAPAG-KAINAN DAHIL SA BASTOS NA JOKE NI TITO
INIWAN KO SILA SA HAPAG-KAINAN DAHIL SA BASTOS NA JOKE NI TITOMinsan talaga, kung sino pa ang kadugo mo, sila pa ang unang tumatama sa pride mo.Nagtipon-tipon ang buong pamilya para sa isang masayang reunion—yung tipong maraming pagkain sa mesa,…
PINALAYAS KO ANG SIL(Sister-in-Law) KO SA BAHAY NAMIN DAHIL HINDI SIYA TUMUTULONG SA GAWAING BAHAY
PINALAYAS KO ANG SIL(Sister-in-Law) KO SA BAHAY NAMIN DAHIL HINDI SIYA TUMUTULONG SA GAWAING BAHAYMay mga pagkakataon talaga na kahit gaano ka kapasensyoso, darating ang punto na mapupuno ka rin.Lalo na kapag ang isang tao ay nakikitira na nga lang…
HINDI AKO FREE-TAKER NG ANAK NG IBA KAYA KAHIT NAKATUNGANGA LANG AKO SA BAHAY AYAW KONG MAG-ALAGA NG PAMANGKIN
HINDI AKO FREE-TAKER NG ANAK NG IBA KAYA KAHIT NAKATUNGANGA LANG AKO SA BAHAY AYAW KONG MAG-ALAGA NG PAMANGKINMinsan, ang hirap kapag ang tingin ng pamilya mo sa “rest day” mo ay “extra time” para sa kanila.Akala nila dahil wala…
End of content
No more pages to load