Adikku sedang pergi, dan iparku, yang tiba-tiba sakit, memanggilku ke kamar pribadinya untuk urusan yang sensitif. Aku hanya ingin lari secepat mungkin setelah dia mengatakan itu… tapi kemudian…
Iparku menderita stroke setelah kecelakaan kerja dua tahun lalu. Dari seorang pria yang sehat, lincah, dan cakap, kini ia terbaring di tempat tidur, separuh tubuhnya lumpuh, mulutnya berubah bentuk, dan ia kesulitan berbicara. Rumah di Bandung, yang dulunya penuh tawa, kini hanya dipenuhi suara ventilator dan desahan adikku setiap malam.

Sebelumnya, ia adalah pria idaman banyak gadis. Tinggi, baik hati, penyayang, dan perhatian kepada istri dan anak-anaknya. Sari menikah dengannya; mereka berdua hanya memiliki rumah kecil, bekerja keras, tetapi selalu bergandengan tangan saat pergi ke Pasar Baru, tertawa dan mengobrol dengan gembira. Aku masih ingat, ketika aku masih mahasiswa di Universitas Padjadjaran, kakak iparku selalu menabung untukku: “Belajarlah giat, dan ketika kamu sudah punya pekerjaan tetap nanti, aku akan senang untukmu.”

Namun, nasib buruk telah membawanya ke keadaan lumpuh ini, matanya selalu dipenuhi kesedihan dan tatapan kosong.

Malam itu, hujan turun deras. Adikku pergi ke pasar malam untuk berjualan, sementara aku tinggal di rumah untuk merawatnya. Saat aku mengambil air dari kamar mandi untuk membasuh wajahnya, dia berbisik, “Dik… kemarilah, aku perlu bertanya sesuatu kepadamu secara pribadi…” Suaranya bergetar, napasnya lemah. Aku terdiam sejenak, karena dia jarang berbicara, dan belum pernah memanggilku secara pribadi seperti itu sebelumnya. Aku mendekat, jantungku berdebar kencang, merasa gugup tanpa alasan yang jelas. Dia menatapku lama. Matanya lelah tetapi dalam, seolah menyimpan sesuatu yang telah lama disembunyikannya. Dia mencoba menggerakkan lengannya yang lumpuh, memberi isyarat agar aku mendekat. Sejak ia jatuh sakit, ini adalah pertama kalinya ia memanggilku ke kamar pribadinya, dan aku merasa lemas seluruh tubuh… Ia berbisik, “Aku tahu… kau sangat mencintai Sari. Tapi jika… jika suatu hari nanti aku tidak ada lagi… bisakah kau berjanji satu hal padaku?” Aku tergagap, “Kumohon katakan padaku, Budi.” Ia menelan ludah, suaranya bergetar, “Kumohon nasihati adikmu… untuk menikah lagi. Aku tidak ingin dia hidup kesepian. Adikmu adalah orang baik, dia pantas dicintai lagi, bukan mengubur dirinya di masa lalu seperti aku.”

Aku terdiam. Hatiku terasa sesak. Saat itu, semua kekhawatiranku lenyap. Ia melanjutkan, suaranya tercekat oleh emosi, “Aku berbaring di sini, mendengarkan adik iparku menangis setiap malam, dan itu lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa pun untuknya kecuali mengirim pesan… Jika aku pergi, jangan biarkan kakakmu menutup hatinya dari dunia lagi.” Air mataku membasahi tangannya. Aku menggenggam tangannya erat-erat, tidak mampu berkata sepatah kata pun. Kakak ipar saya – yang kesehatannya telah direnggut nyawanya – kini khawatir hal itu juga akan merenggut kebahagiaan istri yang ia cintai. Aku menangis tersedu-sedu: “Jangan berkata begitu, dia sangat mencintaimu. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu.” Dia tersenyum, air mata mengalir di wajahnya: “Aku tahu. Tapi cinta juga harus ada kebebasan. Aku tidak ingin dia mengurung dirinya selamanya dalam rasa kasih sayang.” Saya tidak ingin mendengarnya lagi, hanya ingin segera lari keluar dari kamar itu… Saya meninggalkan ruangan dengan mata merah dan bengkak. Malam itu, aku duduk dan menyaksikan hujan turun di teras rumah, air mataku tak henti-hentinya berjatuhan. Saya mengerti, ada cinta yang tidak perlu diucapkan, cukup dengan melihat mata, kita bisa melihat pengorbanan seumur hidup.

Sejak hari itu, saya merawatnya bersama kakak saya, meski hanya bisa membantu sedikit. Banyak orang bilang adikku sengsara, tapi aku melihatnya beruntung – karena memiliki suami yang meski terbaring di tempat tidur masih memikirkan istrinya terlebih dahulu.

Satu tahun kemudian, dia meninggal. Dia berjalan dengan damai, masih tersenyum. Dalam surat yang dia tinggalkan untuk kakakku, hanya ada satu baris tulisan gemetar: “Jika ada kehidupan selanjutnya, aku masih akan memilihmu, meski hanya bisa melihatmu sekali lagi saja.” Kakak saya menangis histeris. Dan saya — orang yang pernah takut ketika dipanggil ke kamar saat itu — sekarang baru mengerti, ada “hal-hal sensitif” yang bukanlah hal yang berkeringat, melainkan pesan terindah tentang cinta, kemurahan hati, dan keluhuran seorang pria