Suami yang Bekerja di Perantauan Mengirimi Ibunya 20 Juta/Bulan untuk Menafkahi Istri yang Baru Melahirkan, Sekali Tiba-tiba Pulang dan Terpukul Melihat Istri Sedang Menelan Nasi Putih dengan Susah Payah. Dan Dia Melakukan Hal Mengerikan Sesaat Kemudian…

Jam 11 siang, aku tiba di ujung gang. Rumah dua lantai yang terawat itu terlihat sunyi. Aku membuka gerbang perlahan dengan kunci khusus. Melangkah ke halaman, aku mendengar suara TV menyala keras dan gelak tawa riuh di ruang tamu.

Dari balik jendela, kulihat ibuku dan adik perempuanku (yang sudah menikah tetapi sering pulang untuk makan) sedang duduk makan siang. Di atas meja, hidangan tersaji mewah: Ayam bakar, sayur asam, semur daging…

Aku lega. Jika ibu makan seperti ini, pasti istri dan anakku juga dirawat dengan baik. Pasti Sari sedang tidur atau makan di kamar. Aku hendak mendorong pintu dan memberi kejutan, tapi sebuah pikiran sekilas menghentikanku. Aku ingin melihat apa yang dilakukan istriku ketika aku tidak ada.

Aku berjalan memutar ke belakang rumah, tempat dapur lama dan kamar kecil yang katanya ibu sediakan untuk Sari menjalani masa nifas “agar tidak terkena angin”. Dan pemandangan di depannya membuat jantungku nyaris berhenti. Pintu dapur terbuka sedikit. Dalam cahaya redup dan suasana lembap, Sari sedang duduk membungkuk di atas dipan bambu tua. Dia kurus kering, kedua pipinya cekung, kulitnya pucat seperti daun pisang. Di tangan Sari, digendong putri kecilku yang masih merah, si bayi sedang menangis tersedu-sedu.

Dan Sari… dia sedang makan siang. Tidak ada ayam bakar. Tidak ada sayur asam. Di depannya hanya semangkuk mi instan yang diseduh terburu-buru, airnya sudah dingin, mi-nya mengembang. Tak sepotong daging, tak sehelai sayur. Sari sambil menggendong anak, menyuap mi dengan tergesa. Air matanya menetes deras ke dalam mangkuk, asin dan pahit.

Sambil makan, dia tersedak-sedak: “Tenang sayang… Maafkan ibu… Ibu terlalu lapar… Ibu makan sedikit saja lalu ibu menyusuimu…” Aku berdiri membeku. Darahku mendidih, berdesir dari kaki ke ubun-ubun. “20 juta sebulan!” Aku mengirim 20 juta agar istriku makan mi instan mengembang seperti ini? Tidak bisa kutahan lagi sedetik pun.

BRAK!!!! Aku menendang pintu dapur hingga terbuka lebar.

Seluruh rumah bergetar.

Sari kaget setengah mati, memeluk anaknya erat sampai tangannya gemetar. Mangkuk mi hampir terjatuh.

Ibuku dan adikku di ruang tamu mendengar suara itu, panik berlari ke belakang. Aku berdiri di tengah pintu, seluruh tubuh tegang, mata memerah, suara tersekat karena marah:

— “Inikah makanan sehat untuk istri yang nifas? Inikah cara ibu merawat menantu saat anak kirim 20 juta setiap bulan?”

Ibuku terdiam sebentar lalu berubah ekspresi, gagap:

— “Lho… lho… kok kamu pulang… tidak beri tahu…”

Tapi aku tidak sanggup mendengarnya.

Aku melangkah langsung ke sisi Sari, melihat mangkuk mi yang dingin, memandangi wajah istri yang kurus sampai hampir tak kukenali.

Aku menoleh ke ibu, menggertakkan setiap kata:

— “Ibu makan ayam bakar, semur daging, sayur asam, tapi biarkan istri dan anak makan MI INSTAN? Sebulan 20 juta – uangnya ibu pakai untuk apa?”

Adikku menyela, meringis:

— “Kakak berlebihan sekali, perempuan nifas makan banyak daging bisa bikin panas badan, makan mi biar ringan perut!”

Aku menatapnya tajam:

— “Kamu pikir kakak bodoh?”

Lalu aku menatap langsung ke ibu:

— “Istri anak kurus kering begini, ibu tidak melihat? Bagaimana ibu tega…”

Sari buru-buru menarik lengan bajuku, perlahan geleng:

— “Kak… jangan lanjutkan… Aku bisa tahan… ibu sibuk banyak urusan…”

Suaranya lemah hingga seperti angin.

Aku berbalik, menatap ibuku:

— “Ibu jelaskan.”

Ibuku mengeratkan bibir, berusaha menjaga raut dingin:

— “Rumah ini menghidupi tiga orang dewasa, masa sedikit? 20 juta itu tidak seberapa. Ibu harus bayar listrik, air, belanja, obat-obatan… Menantu baru melahirkan harus berkorban sedikit…”

Aku terkekap pahit, senyum penuh kepedihan:

— “Berkorban dengan makan mi instan mengembang?”

Dapur sunyi senyap.

Aku berjalan ke lemari es. Hampir kosong kecuali beberapa butir telur dan botol air.

Lalu kubuka laci pribadi ibu.

Di dalamnya, setumpuk nota belanja, penuh kosmetik merek mahal, pakaian baru, dan beberapa bon restoran mewah.

Kuraih, suara mendesis melalui gigi:

— “Ibu bilang habis uang karena… semua ini?”

Ibuku berubah pucat, merebut tumpukan kertas:

— “Kamu mengobrak-abrik barang ibu buat apa!? Ibu membesarkanmu dua puluh tahun lebih, sekarang ibu makan apa itu hak ibu!”

Aku menutup mata, berusaha menahan sesuatu di tenggorokan.

— “Lalu uang yang anak kirim untuk menafkahi ISTRI DAN ANAK – ibu habiskan? Ibu biarkan istri dan anak kelaparan, biarkan anakku menangis siang-malam di kamar dapur gelap ini?”

Adikku mencebik:

— “Dia melahirkan anak perempuan, wajar ibu lebih sayang cucu laki-laki di rumah kami…”

Hanya satu kalimat itu… membuatku terdiam membatu.

Aku menoleh ke Sari.

Dia menunduk dalam, air mata jatuh di pipi putri kecilnya.

Aku paham semuanya. Setiap detail. Setiap kekurusan, setiap makan tanpa gizi, setiap malam dia berkata “Aku baik-baik saja” lewat pesan yang kupercaya.

Karena dia tidak berani bicara.

Karena dia takut menyulitkanku.

Aku menarik napas dalam.

Lalu berkata tenang — tapi suara dingin membeku:

— “Mulai hari ini, anak akan bawa Sari pulang ke rumah orangtuanya. Anak akan menafkahi istri sendiri, merawat anak sendiri. Ibu tidak punya hak lagi.”

Ibuku melonjak:

— “Kamu berani!?”

Aku menggendong putri kecil dari pelukan Sari, mendekapnya ke dada.

— “Anak tidak hanya berani… anak akan lakukan sekarang.”

Aku membantu Sari berdiri. Dia nyaris terjatuh ke pelukanku karena terlalu lemah.

Aku memandang ibu, untuk terakhir kalinya:

— “Ibu ingin menjaga harga diri? Anak katakan jelas: MULAI SEKALI JANGAN AMBIL UANG ANAK LAGI.”

Ibuku pucat pasi:

— “Kamu… kamu anak durhaka!”

Aku tersenyum, lembut tapi sedih:

— “Tidak. Durhaka adalah membiarkan istri dan anak sendiri disakiti tanpa berbuat apa-apa.”

Aku menggandeng Sari, berjalan langsung keluar.

Tidak menoleh.

Tidak ragu.

Di luar, matahari terik membakar, tapi tiba-tiba hatiku terasa sangat lega.
Sari memegang tanganku, gemetar bertanya:

— “Kak… Kakak marah padaku?”

Aku menggenggam tangannya:

— “Kakak hanya marah pada diri sendiri… karena pulang terlalu terlambat.”

Dan sejak hari itu… aku bersumpah:

Tidak akan membiarkan istriku meneteskan air mata lagi karena keluarga suami, sekali pun.