“Wah, rumahmu besar dan luas juga ya, Arya. Ibu menyesal karena dulu nggak mau ikut kamu ke Jakarta dan tinggal di sini,” ucap Bu Desi. Kedua bola matanya tampak berbinar-binar memindai seisi rumah yang ditempati Arya dan Shanum, dengan berbagai macam perabotan mewahnya.
“Ya iyalah, ibu sih. Lila kan udah bilang, mending tinggal di rumah Mas Arya aja. Eh, ibunya nggak mau!” celetuk Lila menimpali penyesalan sang ibu.
Sementara itu, Shanum hanya diam dan memerhatikan gerak-gerik mereka berempat. Arya, Ibu mertua, adik ipar, serta seorang perempuan yang asing bagi Shanum.
Bu Desi dan Lila yang masih terpesona dengan desain rumah mewah itu, dan Arya juga perempuan yang sedari tadi menundukkan kepalanya, enggan membalas tatapan Shanum. Mungkin … takut.
“Mas Arya, tolong jelaskan semua ini,” pinta Shanum mulai membuka suara. Wanita itu menaruh kedua tangannya di perut sembari memindai keempat orang di hadapannya dengan tatapan menyelidik.
“Ah iya, aku sampai lupa untuk mengenalkannya padamu, Sha,” ucap Arya santai, seakan tanpa beban, pun juga rasa bersalah telah membawa istri barunya ke istana yang ditempatinya dengan Shanum selama tiga tahun terakhir.
Shanum menatap lekat ke arah Arya, menanti kata demi kata yang akan keluar dari mulutnya.
“Katakan, siapa dia Mas?” Penuh penekanan, Shanum bertanya. Kedua matanya tengah memindai sosok asing yang duduk di samping suaminya, bahkan bergelayut manja di lengan sang suami.
“Perkenalkan, dia adalah Anara, istri baruku.” Tanpa dosa, lelaki yang masih berstatus suami sah Shanum itu memperkenalkan perempuan dengan riasan tebal, dan pakaian yang aduhai se*$sinya sebagai istri barunya. Bagaikan petir di musim kemarau ketika Arya mengenalkan sosok itu.
“Aku sudah menikah dengan Anara tiga bulan yang lalu,” sambungnya sembari menatap mesra Anara yang duduk di sampingnya, melempar senyum remeh terhadap istri sah Arya.
“Hahaha….” Shanum tiba-tiba saja tertawa lepas. Dia menertawakan dirinya sendiri. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tiba-tiba saja dirinya dilanda kenyataan sedemikian rupa. ‘Sedih, iya. Tapi hanya sedikit saja. Hatiku terlalu berharga untuk meratapi lelaki pecundang seperti Mas Arya. Mirisnya hidupku!’ keluh Shanum dalam hati.
Shanum menghentikan tawanya. “Lalu, maksudmu apa membawanya ke sini, Mas,” ucap Shanum dengan wajah datar.
Sementara keempat orang itu menatap Shanum heran. Ya, Arya, Bu Desi, Lila, dan juga perempuan muda yang baru saja dikenalkan Arya sebagai istri keduanya. Mereka tercengang dengan ekspresi Shanum.
Bukan amarah atau makian yang wanita itu lontarkan. Melainkan ekspresi datar dan dingin yang Shanum tunjukkan pada mereka berempat.
‘Hah! Jangan harap! Aku tak akan mengotori mulutku dengan mengucapkan bermacam sumpah serapah pada mereka. Tidak akan!’ Shanum membatin dalam hatinya.
“M–Maksudku ….” Arya tampak gugup. Pria itu mendadak ciut setelah melihat reaksi santai Shanum.
“Katakan saja pada Shanum, Arya. Jangan bertele-tele! Kita akan tinggal di sini mulai sekarang!” tukas Bu Desi, dengan tatapan sinisnya tertuju pada Shanum.
Anara? Perempuan itu hanya mampu menundukkan wajahnya. Menyembunyikan senyum licik di balik wajahnya. Shanum dapat melihat senyuman lic#ik dari perempuan itu. Seakan tengah menge#jeknya.
“Tunggu, kalian? Maksudnya Ibu, Lila, dan juga perempuan ini akan tinggal di sini? Di rumahku? Aku nggak salah dengar kan, Mas?” Shanum menatap tajam tepat di manik mata suaminya.
Pria itu terlihat gelagapan. Jakunnya naik turun tampak kesulitan menelan ludahnya. Dia pikir Shanum akan iya-iya saja dengan kemauannya. Tetapi, dugaannya salah besar.
“Be–Benar, Sha. Karena Anara sekarang jadi istriku juga. Jadi, dia akan tinggal bersama kita. Kamu nggak keberatan, kan?” ucap Arya dengan intonasi sedikit rendah.
“Kalau aku nggak bolehin gimana?” tantang Shanum tidak mau kalah.
Anara seketika menengadahkan wajahnya menatap taj#am ke arah Shanum.
‘Hei, gu n dik! Beraninya kau menatapku seperti itu. Cih!’ Shanum menggeram dalam hatinya.
Bu Desi dan Lila pun tak kalah si#nisnya kala matanya beradu pandang dengan Shanum.
“Aku kepala keluarga di sini, jadi aku berhak menentukannya, Sha!” ujar suami Shanum itu, sok bijak.
“Rumah ini adalah rumahku. Aku nggak mau ada sampah yang masuk ke rumahku yang mewah ini,” sarkas Shanum seraya mengangkat dagunya.
“Plis, Sha. Anara lagi ha#mil sekarang. Aku nggak tega kalau biarin dia, ibu dan Lila tinggal di rumah yang sempit. Bukankah di sini banyak kamar yang kosong, Sha. Biarkan mereka tinggal di sini,” ucap Arya dengan tatapan mengiba.
“Jangan banyak protes lah kamu, Shanum!” sentak Bu Desi ketus. Tatapan matanya nya#lang menatap ke arah menantunya itu.
‘Apalagi ini!’ desis Shanum dalam hatinya ketika melihat kemarahan sang ibu mertua dan mendengarnya membe nt aknya untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
“Kamu jangan sok berkuasa atas rumah ini. Inikan rumah hasil kerja keras Arya, putraku. Kamu kerjanya cuman ongkang-ongkang kaki, jadi jangan sok ngatur suamimu!” ketusnya lagi.
‘Apa? Aku tak salah dengar? Ongkang-ongkang kaki, katanya. Ibu mertuaku seperti belum sepenuhnya mengenalku.’ Shanum mencibir dalam hatinya.
Arya terlihat menyikut pelan ibunya. Memberi kode pada ibu mertua untuk berhenti.
“Sudah, Bu. Jangan dilanjutkan lagi.” Arya tampak berbisik ke telinga ibunya.
“Sudah ma#nd ul, sok-sokan mau menguasai ha rt a anakku. Das#ar ben#alu kamu, Shanum!” hi*anya lagi.
Shanum terkesiap dengan hi#na#an dari Bu Desi. Wanita itu tak mengindahkan permintaan putranya untuk diam. Dia justru melontarkan kata-kata yang menyak#itkan hati Shanum.
“Apa Ibu bilang?”
Getaran halus melintas di rahang Shanum. Namun, tidak ada satu pun perubahan ekspresi di wajahnya yang cantik. Dinginnya semakin membeku.
“Jadi, ini bukan sekadar membawa ‘istri baru’ untuk tinggal, tetapi juga membawa serta sebuah opini dan penghinaan yang sudah dipendam sejak lama, ya, Bu?” suara Shanum keluar datar, namun setiap katanya terukur seperti pisau bedah. Matanya beralih dari Bu Desi ke Arya. “Dan kamu, Mas… diam saja membiarkan ibumu menghinaku seperti itu? Setelah semua yang kamu lakukan?”
Arya tampak tersedak. Wajahnya memerah campur rasa malu dan kesal. “Ibu, jangan begitu… Sha, ibu cuma emosi—”
“Emosi?” potong Shanum, suaranya masih tenang namun mematikan. “Emosi mengizinkanmu menikah diam-diam? Emosi mengizinkanmu membawa perempuan hamil ini ke rumah istrimu? Atau emosi yang membuatmu berpikir aku akan menerima semua ini dengan senyuman?”
Anara akhirnya angkat bicara, dengan suara lirih dan penuh kepura-puraan. “Kakak Shanum, maafkan kami… Aku… aku cuma tidak punya tempat lagi. Arya bilang di sini besar, dan Kakak pasti orang yang baik hati—”
“Jangan,” ucap Shanum, mengangkat telapak tangannya untuk menghentikan kata-kata Anara. Tatapannya tajam. “Jangan panggil aku ‘kakak’. Kita tidak saudara. Dan kebaikan hatiku tidak untuk dikhianati lalu diminta lagi sebagai pengemis.”
Lila yang selama ini hanya menyimak dengan mata berbinar melihat perabotan mewah, kini ikut bersuara. “Kakak Shanum, kamu kok jadi jahat sih? Iya, Mas Arya salah, tapi kan dia masih suamimu. Harusnya kamu mengikhlaskan, dong. Lagian, siapa tau anakku nanti bisa main sama anaknya Kak Anara di rumah besar ini.”
Shanum memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam-dalam. Ketika matanya terbuka, ada keputusan yang mengkristal di dalamnya. Semua keraguan, sedikit rasa sedih, dan sisa-sisa pengharapan pada Arya, menguap begitu saja.
“Arya,” panggilnya, tanpa embel-embel ‘Mas’ lagi. “Kamu bilang kamu kepala keluarga di sini, yang berhak menentukan?”
Arya mengangguk, sedikit angkuh. “Iya, tentu saja.”
“Dan kamu, Bu Desi, bilang ini rumah hasil kerja keras Arya? Aku cuma ongkang-ongkang kaki?”
“Sudah jelas!” sahut Bu Desi dengan pedas.
Shanum mengangguk pelan, seakan-akan menyimpan sebuah rahasia yang akan segera dibongkar. Senyum tipis dan dingin akhirnya menguar di bibirnya.
“Baik. Kalau begitu, mari kita klarifikasi hak dan kepemilikan, sekali untuk selamanya.”
Bagian 3
Shanum berbalik, berjalan dengan langkah tegap menuju meja kerja di sudut ruang keluarga yang elegan. Dia membuka laci, mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tua. Suasana di ruang itu mendadak hening, hanya terdengar bunyi kertas yang digeser. Keempat pasang mata itu menatapnya, penasaran dan mulai dihinggapi kecemasan.
Dia kembali menghadap mereka, map itu dipegang erat di depan dada.
“Ini,” kata Shanum, membuka map dan mengeluarkan beberapa dokumen, “adalah sertifikat hak milik atas rumah dan tanah ini.” Dia menyodorkan halaman depan ke hadapan Arya dan Bu Desi. Tertulis jelas di sana:
Bu Desi mendecak, matanya melotot. “Apa?! Itu… itu pasti palsu! Atau Arya yang menuliskan namamu! Itu hakiki rumah anakku!”
“Tidak, Bu,” bantah Shanum lembut. “Lihat tanggal akta jual belinya. Tiga setengah tahun lalu. Saat itu, Arya belum punya pekerjaan tetap. Dialah yang tinggal di sini ‘ongkang-ongkang kaki’, sementara aku yang bekerja membanting tulang sebagai direktur di perusahaan konsultan milik keluarga besarku.”
Arya terlihat pucat. “Sha… aku…”
Shanum tak peduli. Dia mengeluarkan dokumen lain. “Ini surat perjanjian pra-nikah yang kita tanda tangani, Arya. Di situ jelas, semua harta yang dibeli sebelum dan selama pernikahan dengan uang pribadi masing-masing, tetap menjadi milik pribadi. Rumah ini kubeli dengan uangku sendiri, dari hasil kerjaku, jauh sebelum kita nikah. Data rekening koran dan transfer ke developer ada semua di sini.”
Anara, yang wajahnya sudah kehilangan senyum liciknya, memandang Arya dengan tatapan menuduh. “Kamu bilang rumah ini hasil kerjamu… kamu bilang semuanya sudah aman…”
Shanum menyambung, suaranya seperti baja. “Jadi, kesimpulannya: Ini bukan rumah Arya. Ini rumahku. Satu-satunya kepala keluarga di sini adalah aku. Dan keputusanku adalah: Aku tidak mengizinkan seorang pun dari kalian untuk tinggal di sini.“
Bu Desi gemetar, kali ini bukan karena kemarahan, tapi karena malu dan kenyataan yang menghancurkan egonya. Lila terdiam, bingung.
“Arya, kamu bisa tetap di sini, karena secara hukum kamu masih suamiku. Tapi dia,” Shanum menunjuk Anara, “harus pergi dari sini sekarang juga. Soal status pernikahan gelapmu itu, itu urusan kita berdua nanti di pengadilan.”
“Shanum, kamu tega mengusir Anara yang sedang hamil?!” teriak Arya.
“Dulu, kamu tega mengkhianati istri yang setia mendampingimu?” balas Shanum dingin. “Kamu membawa dia ke sini tanpa izinku, menghinaku di rumahku sendiri. Sekarang, aku hanya menegakkan hakku.”
Shanum melangkah ke telepon rumah di dekatnya. “Kalian punya waktu satu jam untuk mengemasi barang-barang dia dan pergi dari sini. Jika tidak, aku akan menghubungi satpam kompleks dan polisi untuk mengusir penyusup.”
Anara akhirnya menangis, namun kali ini air matanya tampak nyata—air mata kepanikan. Dia meraih lengan Arya. “Arya… ini gimana?”
Arya terduduk lesu di sofa, tak berkutip. Seluruh kebohongan dan rencananya yang licik runtuh berantakan dalam sekejap.
Bu Desi, kehilangan kata-kata, hanya bisa memandangi sertifikat itu dengan pandangan kosong. Istana yang dia impikan ternyata tak pernah dimiliki putranya.
Shanum berdiri tegak, memandangi kekacauan yang telah dibuat oleh keserakahan dan pengkhianatan mereka. Hatiku memang berharga, pikirnya. Dan hari ini, aku baru saja mengambil kembali kendali atasnya—dan atas hidupku sepenuhnya.
“Jam mulai berdetak sekarang,” ucap Shanum, suaranya mengakhiri segala debat. Ruang mewah itu kini terasa seperti ruang pengadilan, dan dialah hakim yang baru saja menjatuhkan vonis.
News
Pero nang mabalitaan ko ang nangyari doon sa mag-asawang lesbian sa kabilang kanto, medyo kinabahan din ako, kaya laging nagpapaalala si Gerson sa akin//
“Ipinasok kay Tiya” “Mahal, gabi na, magsara na tayo.” “Maya-maya na, sayang naman, may mga dumarating pa na bumibili,” sagot ko sa aking asawa. “Eh, medyo masama ang panahon at umuulan, wala na siguro nabibili. Mahirap na, uso pa naman…
Nahuli ko $! m!$!$ na kasama sa kama @ng Ex ny@
Nahuli ko si misis na kasama sa kama ang Ex nya Gabi ng Biyernes sa aming bahay sa Sampaloc, Manila. Katatapos lang namin mag-dinner nang mapansin kong nagmamadaling mag-empake si Clara. Seryoso ang mukha niya at parang balisa. “Hon, tumawag…
UMIYAK ANG ANAK NG MILYONARYO GABI-GABI… AT WALANG SINUMAN ANG GUSTONG MALAMANG KUNG BAKIT.
Pinapagana ng GliaStudios Hindi nakatulog si Clara nang gabing iyon. Naupo siya sa maliit na silid na nakatalaga sa kanya sa pakpak ng mga katulong, inuulit ang bawat tunog, bawat salita, bawat kilos na ginawa ng batang lalaki. Pinalaki niya…
Ipinagbili ako bilang asawa sa isang lalaking “paralisado”… at noong gabi ng aming kasal, kinailangan ko siyang tulungan na makaupo sa kama. Nang hawakan siya ng aking mga kamay, napagtanto kong may hindi akma.
Ipinagbili ako bilang asawa sa isang lalaking “paralisado”… at noong gabi ng aming kasal, kinailangan ko siyang tulungan na makaupo sa kama. Nang hawakan siya ng aking mga kamay, napagtanto kong may hindi akma. Ipinagbili ako bilang asawa ng isang…
NAG-TEXT ANG ASAWA KO: “HAPPY ANNIVERSARY, BAE. STUCK AKO SA TRABAHO.” PERO NASA OPISINA NA NIYA AKO AT PINAPANOOD SIYANG MAY KAHALIKANG IBA. BIGLANG MAY BUMULONG SA LIKOD KO: “WAG KANG MAINGAY. MAGSISIMULA NA ANG TUNAY NA PALABAS.”
Ang Simula: Ang Sorpresa at Ang Kasinungalingan Ikalimang anibersaryo namin ng asawa kong si Eric. Dahil alam kong naging sobrang busy siya sa kanyang trabaho bilang Finance Director sa isang malaking kumpanya, nagdesisyon akong i-surprise siya. Nagluto ako ng paborito…
Se llevó a casa un viejo sillón que alguien había tirado a la basura, pensando que aún podría ser útil.
Minutos después, al quitar la tapicería del sillón, descubrieron un compartimento secreto oculto en su interior. Dentro de ese espacio había algo que ninguno de los dos habría imaginado encontrar. Sin embargo, lo que realmente hizo especial esta historia no…
End of content
No more pages to load